Sabtu, 07 April 2012

SEJARAH DAN PERKEMBANGAN PENDEKATAN KOMUNIKATIF DALAM DUNIA PENDIDIKAN


Sejarah dan Perkembangan Pendekatan Komunikatif
Munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa bermula dari adanya perubahan-perubahan dalam tradisi pembelajaran bahasa di Inggris pada tahun 1960-an menggunakan pendekatan situasional (Tarigan, 1989:270). Dalam pembelajaran bahasa secara situasional, bahasa diajarkan dengan cara mempraktikkan/melatihkan struktur-struktur dasar dalam berbagai kegiatan berdasarkan situasi yang bermakna.
Namun, dalam perkembangan selanjutnya, seperti halnya teori linguistik yang mendasari audiolingualisme, ditolak di Amerika Serikat pada pertengahan tahun 1960-an dan para pakar linguistik terapan Inggris pun mulai mempermasalahkan asumsi-asumsi yang mendasari pengajaran bahasa situasional. Menurut mereka, tidak ada harapan/masa depan untuk meneruskan mengajar gagasan yang tidak masuknakal terhadap peramalan bahasa berdasarkan peristiwa-peristiwa situasional.
Apa yang dibutuhkan adalah suatu studi yang lebih cermat mengenai bahasa itu sendiri dan kembali kepada konsep tradisional bahwa ucapan-ucapan mengandung makna dalam dirinya dan mengekspresikan makna serta maksud pembicara dan penulis yang menciptakannya (Howatt, 1984:280, dalam Tarigan, 1989:270).
Adapun latar belakang munculnya pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa, diantaranya sebagai berikut :
1)             Ketidakpuasan akan beberapa teori bahasa ; tradisional, struktural, dan mentalistik yang menekankan pada pembelajaran bahasa pada teori bahasa.
2)             Adanya penekanan kurikulum dan kepentingan humaniora. Perubahan kurikulum saat itu masih tetap menekankan pada pemahaman teori-teori bahasa. Akibat dari kondisi ini, peserta didik secara teori mampu mengusai ilmu bahasa tetapi penggunaan bahasa dalam komunikasi masih kurang.
3)             Muncul pendekatan komunikatif tahun 1980. Kemunculan pendekatan ini membawa angin segar dalam pembelajaran bahasa Indonesia di kelas.

Ciri-Ciri Pendekatan Komunikatif
Pada umumnya pendekatan komunikatif dikaitkan dengan keterampilan berbicara dan menyimak. Namun, dalam pembahasan kali ini akan lebih difokuskan lebih mendalam terhadap ketrampilan berbicara. Hal ini perlu diingkarkan lagi ada beberapa prinsip pendekatan komunikatif dalam pembelajaran bahasa. Ada empat prinsip fundamental yang diyakini pelopor pendekatan komunikatif (Jos Daniel Parera, 115) :
1)             Materials in the language classroom should be authentic-or as authentic as possible-because the language of the “real world” is neccessary for good language learning.
(Terjemahan : Materi pelajaran bahasa di dalam kelas harus asli-sedapat mungkin asli-karena bahasa dari dunia yang nyata sangat diperlukan untuk pembelajaran).
2)             Activities in the language should be “real” and Purposeful : “With respect to teaching methodology, it is crucial that classroom avtivities reflect. . those comunications activities that the learner is most likely to engage in”.
(Terjemahan : kegiatan-kegiatan berbahasa haruslah “nyata” dan penuh tujuan, dengan memperhatikan metodologi pembelajaran adalah sangat penting kegiatan-kegiatan komunikasi yang memungkinkan peserta didik terlibat dan melibatkan diri).
3)             Language materials should be contextualized: instead of extracting or creating discretepieces of language materials must presented in meaningful context.
(Terjemahan : materi pengajaran bahasa harus terkontekstualisasi, sebagai gantu menyarikan atau membangun penggalan yang berbeda-beda mengenai bahasa, materi bahasa harus disajikan dalam konteks yang bermakna).
4)             Individual learner needs are paramount in the language classroom: materials and activities should reflect those needs.
(Terjemahan : kepentingan sisiwa adalah yang terpenting dalam kelas bahasa, materi dan kegiatan harus memperlihatkan keperntingan-kepentingan peserta didik).

Adapun ciri-ciri dalam pendekatan komunikatif, antara lain diantaranya sebagai berikut :
1)             Adanya kegiatan komunikasi fungsional dan interaksi sosial yang saling berkaitan erat.
2)             Pembelajaran berorientasi pada pemerolehan kompetensi komunikatif bukan ketepatan gramatikal.
3)             Pembelajaran diarahkan pada modifikasi dan peningkatan peserta didik dalam menemukan kaidah bahasa melalui kegiatan berbahasa.
4)             Materi pembelajaran berangkat dari analisis kebutuhan pembelajaran.

Daftar Referensi :
Ali, Muhammad. 2004. Guru Dalam Proses Belajar Mengajar. Bandung : Sinar Baru Algasindo
Daniel, Parera Jos. 1996. Pedoman Kegiatan Belajar Mengajar Bahasa Indonesia. Jakarta : Rasindo
Mulyati. 2010. Diagnosa Kesulitan Belajar. Semarang : IKIP PGRI PRESS
Mulyono, Abdurrahman. 2003. Pendidikan Bagi Anak Berkesulitan Belajar. Jakarta : PT Asdi Mahasatya



Tidak ada komentar:

Poskan Komentar